9 Deretan Film Berbahasa Jawa yang Berprestasi dan Patut Diapresiasi

Film-film karya anak bangsa kini semakin hari semakin berkembang. Tak sedikit dari film-film sineas tanah air berhasil diputar di kancah internasional, salah satunya film berbahasa Jawa.

Tak hanya itu, film-film tersebut juga berhasil meraih penghargaan di berbagai festival film internasional.

Mengusung tema film berbahasa jawa, “Yowis Ben” adalah film yang menggunakan bahasa Jawa Timur-an dan sedang populer di kalangan remaja saat ini.

Bahkan film ini mendapat pujian dari Presiden Jokowi karena mengangkat tema bahasa daerah.

Sebagai bangsa dengan beragam suku, budaya, dan bahasa sudah sepatutnya kita bangga dengan mendukung sinema perfilman tanah air.

Apalagi tema yang diusung ikut melestarikan budaya di seluruh pelosok nusantara.

Film dengan latar budaya dan bahasa dari daerah tertentu di Indonesia kini semakin banyak dikembangkan.

Seperti “Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck” yang mengeksplor budaya Minang, “Susah Sinyal” yang berlatar daerah Sumba, serta masih banyak film lainnya.


Deretan Film Berbahasa Jawa


Kali ini kita akan fokus membahas film dari tanah Jawa khususnya film berbahasa Jawa. Banyak film berbahasa Jawa yang berjaya di festival internasional bahkan memperoleh penghargaan.

Berikut kami kupas film berbahasa Jawa terbaik yang patut diacungi jempol.

1. Turah (2016)

Film karya sineas muda Wicaksono Wisnu Legowo ini menjadi perwakilan Indonesia melenggang ke ajang Oscar 2018.

“Turah” adalah sebuah cerita tentang kehidupan sehari-hari dengan latar kampung nelayan di pesisir utara Kota Tegal, Jawa Tengah.

Wisnu ingin mengangkat fakta soal kesenjangan sosial yang sering terjadi di berbagai pelosok Indonesia, khususnya di Kampung Tirang, Tegal kampung halamannya.

Sebuah proyek ideologis yang diangkat ke layar lebar bukan untuk tujuan komersil semata.

Film ini memaparkan kehidupan warga di kampung Tirang, sebuah kampung yang bersanding dekat dengan kota Tegal.

Meski berdekatan dengan kota, namun kehidupan warga Timang nyaris timpang, mereka miskin dan tertinggal.

Bahkan warga sama sekali tak tersentuh listrik, rumah reot, dan kesulitan air bersih, jauh dari hidup yang layak pada umumnya.

Berkat kerja keras Wisnu Legowo, “Turah” berhasil memenangkan penghargaan Netpac Award dan ditayangkan di 9th Bengaluru International Film Festival 2017, India.

2. Ziarah (2017)

“Ziarah” adalah satu-satunya film dalam negeri yang meraih penghargaan di ASEAN International Film Festival and Awards (AFIFA) 2017 tanpa melibatkan para aktor dan aktris papan atas dalam pemeran tokoh pemainnya.

Film garapan sutradara BW Purbanegara ini justru menggaet warga lokal bernama Ponco Sutiyem untuk memerankan karakter tokoh utama pada film ini yaitu Mbah Sri.

Mbah Sri adalah nenek tua berumur 90 tahun yang melakukan perjalanan untuk mencari kuburan suaminya, Mbah Pawiro.

Selama ini Mbah Sri nyekar ke kuburan tanpa nama tertulis di batu nisannya.

Namun, saat Mbah Redjo memberitahu bahwa makan Mbah Prawiro bukan di situ Mbah Sri nekat untuk melakukan perjalanan mencari kijing dari suaminya yang pamit membela negara.

Dengan berbekal petunjuk bertanya sana sini, Mbah Sri akhirnya menemukan makam sang suami bertuliskan Ki Pawiro Sahid (1985).

Sebuah ending yang tak diduga disuguhkan pada akhir cerita ini.

Di sebelah makam Mbah Pawiro ada makam bertuliskan Nyi Pawiro Sahid, yang jelas itu bukan makam Mbah Sri.

Sebuah cerita yang penuh makna akan hakikat kesetiaan akan kamu dapatkan pada film ini. Sepanjang pemutaran film, dialog menggunakan bahasa Jawa kromo alias Jawa halus.

Diselingi candaan-candaan khas Jawa serta latar film yang khas Jawa seperti rumah joglo banyak dijumpai pada film ini. Yuk, ikut dukung perkembangan film karya anak bangsa!

3. Yowis Ben (2018)

Film komedi yang menggunakan bahasa Jawa Timur-an ini mendapatkan pujian spesial dari orang nomor satu Indonesia, Presiden Jokowi.

Hasil karya youtuber Bayu Skak dan Fajar Nugros ini memberikan kisah percintaan ringan di kalangan remaja SMA yang dipenuhi intrik kekonyolan.

Film ini merupakan film perdana Bayu Skak menjadi seorang co-director dalam proyek penggarapan film.

Sebagai film perdana, film ini meraih prestasi yang luar biasa dengan meraih penghargaan sebagai Film Bioskop Klasifikasi Usia 13+ di Anugerah Lembaga Sensor Film.

“Yowis Ben” merupakan nama grup band anak-anak SMA besutan Bayu Skak, Joshua Suherman, Brandon Salim, dan Tutus Thomson.

Band ini dibentuk atas inisiatif Bayu agar bisa terlihat kece di mata Susan (Cut Meyriska), gadis pujaan hati yang telah lama diidam-idamkannya.

Harapan Bayu membentuk band tersebut agar popularitasnya semakin meningkat hingga Susan jatuh hati padanya.

Namun, langkah Bayu dan kawan-kawan dalam menggeluti dunia musik tentu tidaklah mudah. Berbagai rintangan dan cibiran dari orang-orang sekitar sering mereka hadapi.

Akan tetapi hal tersebut tak mematahkan semangat mereka untuk terus berkarya, hingga akhirnya mereka berhasil dikenal publik melalui kanal Youtube yang mereka buat.

Lalu apa kabar dengan cerita cinta Bayu kepada Susan? Apakah akhirnya ia menyatakan perasaaannya, yok ditonton sek yok film e!

4. Siti (2014)

Mengangkat kisah seorang wanita penjual peyek jingking di Pantai Parangtritis, Yogyakarta bernama Siti.

Sosok Siti diperankan oleh Sekar Sri, wanita asli Jogja yang hidup dikelilingi kemiskinan, jeratan hutang dan suami yang lumpuh.

Ia dihadang oleh dua pilihan hidup, pasrah pada kehendak sang takdir atau pergi meninggalkan jeratan kemiskinannya.

Yang membuat film ini istimewa adalah tak hanya dialognya yang full menggunakan bahasa Jawa, namun teknik pengambilan gambar menggunakan latar hitam-putih membuat film “Siti” semakin istimewa.

“Siti” tidak hanya berjaya di dalam negeri sendiri namun juga meraih popularitas di dunia perfilman internasional.

Film ini telah memenangkan piala New Asia Talent Competion untuk sinematografi dan naskah film terbaik pada ajang Festival Film International Shanghai 2015.

Tidak hanya itu film yang dipenuhi akan makna kejujuran ini juga memenangkan kategori Best Performance untuk Sekar di ajang Singapore Film Festival ke-25.

5. Kartini (2017)

Tentu cerita tentang pejuang hak dan emansipasi wanita ini sudah bukan cerita baru bagi kita. Kamu pasti pernah mendengarkan cerita tentang Ibu Kartini saat belajar Sejarah dulu di sekolah.

Yup, film garapan sutradara kondang Hanung Bramantyo ini merupakan sebuah biografi perjuangan emansipasi wanita Indonesia, “Kartini”.

Dibintangi oleh aktris papan atas Dian Sastrowardoyo, film ini berhasil menguras air mata dan mendapatkan banyak pujian dari kalangan pendidik.

Jika ditengok ke belakang kisah tentang Ibu Kartini sudah ketiga kalinya diangkat ke layar lebar setelah R.A. Kartini (1984) dan Surat Cinta Untuk Kartini (2016).

Ciri khas Hanung yang memang ahli dalam membuat sinema biografi, ia tak hanya menampilkan kisah yang sudah tercatat oleh sejarah namun juga mengungkap hal-hal yang selama ini jarang diketahui khalayak umum.

Hanung menyelipkan sisi kontroversial dari Kartini yang kini menjadi sosok legendaris di Indonesia.

Sang sutradara berusaha semaksimal mungkin menampilkan dengan gamblang kegalauan dan pergumulan emosi yang dirasakan oleh Kartini.

6. Prenjak (2016)

Sebuah film pendek besutan Wregas Bhanuteja ini dinobatkan sebagai film pendek terbaik (Le Prix Decouverte Leica Cine) di Festival Film Cannes 2016.

Film dengan durasi 12 menit ini keseluruhan dialognya menggunakan bahasa Jawa. Menceritakan sosok gadis bernama Diah (Rosa Winenggar) yang menawarkan bagian intimnya kepada temannya dengan cara tak biasa.

Alkisah Diah sangat sedang membutuhkan uang, dia memutuskan untuk menjual korek api kepada Jarwo seharga Rp 10.000.

Sebagai bonusnya Jarwo boleh melihat bagian intim Diah. Waw, cukup penasaran bukan? Coba ditonton dulu dong!

7. Tilik (2018)

Film pendek dengan latar budaya Yogyakarta ini menjadi film pendek viral di media sosial. Melahirkan karakter baru di dunia hiburan, yaitu sosok Bu Tedjo.

Sampai-sampai demam Bu Tedjo membajiri iklan-iklan di TV hingga mewarnai sticker di ruang percakapan seperti Whatsapp, Line, dan aplikasi pesan singkat lainnya.

“Tilik” adalah istilah dalam bahasa Jawa untuk menengok orang yang sakit. Topik yang diangkat dalam film ini adalah mengenai penyebaran hoax yang marak terjadi di lingkungan kita.

Diwarnai ghibahan ala ibu-ibu desa, karakter Bu Tedjo, Yu Ning, dan ibu-ibu lainnya membuat tokoh bernama Dian seolah-olah adalah wanita yang tidak benar.

Dian adalah kembang desa yang diidamkan banyak pria, sehingga membuat banyak ibu-ibu desa menggunjingkan status lajangnya.

Beberapa kabar miring tentang Dian menjadi topik yang diperbincangkan selama perjalanan naik truk dalam rangka menjenguk Bu Lurah di rumah sakit kota.

Bagi orang Jawa menyaksikan film ini seolah-olah melihat kenyataan yang ada sehari-hari. Sebuah cerita singkat namun sarat akan makna sosial, film ini sudah ditonton 24 juta kali sejak 4 bulan ditayangkan di Youtube.

Bekerja sama dengan Dinas Kebudayaan DIY, film pendek Tilik berhasil meraih tiga penghargaan. Salah satunya di Official Selection World Cinema Amsterdam 2018.

8. Anak Lanang (2017)

Satu lagi film pendek produksi Ravacana Film yang sukses besar berjudul Anak Lanang. Berkisah tentang empat orang anak SD yang membahas kehidupan sehari-hari saat menaiki becak dalam perjalanan pulang sekolah.

Sesederhana itu, namun film ini mengandung makna yang mendalam. Bagaimana perdebatan sederhana versi anak keci berawal dari tugas sekolah hingga cerita tentang orang tua dibawakan dengan sangat natural.

Dialognya yang lucu dan kental dengan nuansa Jogja membawa film ini meraup beberapa penghargaan.

Memenangkan Panasonic Young Filmmaker 2018 (Honorable Mention), Outstanding Achievement di Indonesian Film Festival Australia 2019, serta terpilih sebagai film terbaik di Indonesian Short Film Festival 2019.

Ceritanya sangat bagus dengan plot twist tak terduga. Salah satu pesan yang mengena dari film ini adalah anak tidak pernah gagal dalam meniru sifat orang tua, khususnya Ibu.

9. Nilep (2015)

Konflik sederhana tentang empat anak kecil yang saling menyalahkan satu sama lain terkait siapa yang mencuri mainan.

Film yang juga besutan Ravacana Films ini juga berhasil memborong sederet penghargaan, diantaranya:

  • Sebagai film pendek terfavorit di Moviestifal Kantor Pos Indonesia 2015.
  • Memenangkan kategori Film Pendek Terbaik di ajang Accfest KPK 2015, XXI Short Film Festival 2016, dan Banten Short Movie Festival 2016.
  • Masuk nominasi Festival Film Pendek Kompas TV 2016.

So, dari kesembilan film di atas harusnya sudah kamu kupas habis semua dong ya?

Dengan banyaknya film berbahasa daerah yang ditayangkan secara daring, tentu membawa keuntungan bagi negara.
Dunia makin mengenal identitas bangsa kita yang beragam salah satunya lewat film-film berbahasa daerah.

Tak hanya Jawa, film berbahasa daerah lainnya seperti Batak, Minang, dan Bugis juga sudah mulai bertebaran. Budaya dan adat istiadat yang unik itu perlu dilestarikan jangan sampai tersapu gelombang kebarat-baratan.

Modern boleh, tapi bukan berarti meninggalkan bahasa Ibu bukan?

Sebagai generasi yang cinta tanah air kita harus turut mendukung perkembangan industri perfilman Indonesia, khususnya film dengan tema yang mengangkat budaya daerah tertentu. Sayonara!

Baca Juga : Film Bencana Alam Terbaik

Leave a Comment