10 Rekomendasi Film Perkelahian Terbaik Ini Berasal dari Dalam Negeri

Kini orang Indonesia patut bangga dengan melambungnya nama perfilman Indonesia ke mata dunia. Film perkelahian terbaik atau dikenal dengan genre action ini telah membuat Indonesia diakui di berbagai negara Asia hingga Amerika.

The Raid adalah film perkelahian terbaik pertama yang melambungkan dunia layar lebar Indonesia pada tahun 2011. Disusul oleh Java Heat dan berbagai film aksi laga lainnya.

Jika berkaitan dengan film aksi laga, maka nama Iko Uwais sudah melalang buana hingga ke belahan dunia Amerika.

Terbukti dengan didapuknya aktor yang jago beladiri tersebut dalam salah satu film ternama Hollywood, Star Wars: The Force Awakens.


Deretan Film Perkelahian Terbaik


Prestasi yang membanggakan sekali ya, selain Iko Uwais aktor laga dalam negeri sendiri pun juga masih bertebaran dengan beberapa film perkelahian terbaik dan tak kalah seru seperti The Raid.

Berikut listnya!

1. The Raid (2011)

Banyak yang memuji film ini menjadi salah satu film perkelahian terbaik Indonesia setelah pertama kali diputar di Festival Film International Toronto 2011.

Film yang dibintangi Iko Uwais ini membawa harum nama Indonesia dengan meraih penghargaan The Cadillac People’s Choice Midnight Madness Award, dan telah diputar di beberapa festival film internasional seperti di Irlandia, Skotlandia, USA, dan Korea Selatan.

Film pertama Indonesia yang menembus tingkat dunia ini bercerita tentang Rama (Iko Uwais), seorang calon ayah yang merupakan anggota tim elit SWAT (sebuah pasukan khusus) di bawah pimpinan Sersan Jaka (Joe Taslim).

Mereka berjuang melumpuhkan sebuah gedung apartemen terlantar tak tertembus di daerah kumuh Jakarta.

Gedung tersebut merupakan sarang para mafia pimpinan gembong narkoba terkenal, Tama Riyadi (Ray Sahetapy).

2. Merantau (2009)

Merantau adalah tradisi turun menurun di suku Minangkabau, kaum lelaki yang hanya mendapatkan sedikit “harto pusako” di Minang berusaha mengembara ke negeri orang demi kehidupan yang lebih berarti.

Hal itulah yang dilakukan Yuda (Iko Uwais), pendekar silat Minangkabau aliran harimau.

Setelah matang dengan persiapan akhir untuk memulai perantauannya, ia harus meninggalkan Ibu, uda, serta segala kenyamanan yang ada di kampung halamannya menuju kota besar yang kasar, Jakarta.

Di Jakarta takdir mempertemukan Yuda dengan dua yatim piatu kakak beradik Adit (Yusuf Aulia) dan Astri (Sisca Jessica).

Mereka yang akan menjadi korban organisasi ilegal “human trafficking” dibantu oleh Yuda untuk melarikan diri.

Setelah Yuda berhasil mengalahkan para mafia dan tukang pukul di sebuah markas, ketiganya menjadi incaran para mucikari dan preman-preman penguasa malam yang menggerayangi setiap sudut kota Jakarta.

Ratger (Mads Koudal), pimpinan organisasi ilegal tersebut menginginkan balas dendam dengan darah yang setimpal terhadap Yuda.

3. Headshot (2016)

Satu lagi film perkelahian terbaik Indonesia yang menampilkan Iko Uwais “Headshot”.

Film ini merupakan film pertama Iko Uwais yang disutradarai oleh sutradara asal Indonesia, Mo Brothers.

Setelah film-film Iko sebelumnya disutradarai oleh Gareth Evan, sutradara film berkebangsaan Britania Raya.

Film ini mengisahkan tentang pria amnesia yang terbangun dari komanya di sebuah ruangan dengan peralatan medis lengkap.

Kaget dan kebingungan dengan keadaan di sekitarnya, ia diberi nama Ismael (Iko Uwais) oleh Ailin (Chelsea Island), mahasiswi kedokteran yang merawatnya.

Ailin merawat Ismael saat menemukannya penuh luka tembak di kepala dalam keadaan yang babak belur.

Setelah siuman, Ismael memulai hidup baru bersama Ailin dan berharap semua akan baik-baik saja di masa depan.

Namun, masa lalu Ismael yang misterius kembali menghantuinya. Ia dihadapkan pada keadaan saat para gembong narkoba berbahaya menculik Ailin.

Demi menyelamatkan Ailin yang telah merawatnya, Ismael kembali ke masa lalu menjadi ‘mesin pembunuh’ bernama Abdi.

4. Java Heat (2013)

Film laga yang mengambil lokasi di Yogyakarta ini ikut mendongkrak nama perfilman Indonesa di mata dunia setelah The Raid.

Menceritakan tentang kerja sama antara polisi lokal bernama Hasim (Ario Bayu) dengan warga Amerika Jake Travers (Kellan Lutz).

Jake yang mengaku berprofesi sebagai asisten guru asing adalah salah satu saksi kunci serangan bom bunuh diri yang terjadi di sebuah pesta amal dimana putri keraton Sultana (Atiqah Hasiholan) tewas terbunuh.

Hashim terpaksa bekerjasama dengan Jake yang memiliki kemampuan menembak yang tak mungkin dimiliki oleh seorang asisten guru.

Perlahan misteri di hadapan mereka terkuak dan kecurigaan Hashim kepada Jake semakin bertambah.

Sementara istri dan anak-anak Hashim ikut diculik orang tak dikenal, kenyataan bahwa Putri Sultana masih hidup dan menjadi tawanan membuat alur cerita pada film ini semakin menegangkan.

Musuh sebenarnya yang mereka hadapi adalah pencuri permata internasional yang lihai dan sangat berbahaya.

Dengan intrik eksotik di tengah istana kuno, masjid, kuil, labirin bawah tanah, dan batu piramida di jantung Pulau Jawa, pencuri tersebut ingin menguasai harta kerajaan.

5. Serigala Terakhir (2009)

Film ini banyak bertabur aktor-aktor tampan Indonesia, diantaranya Vino G Bastian, Fathir Muchtar, Dallas Pratama, Dion Wiyoko, Ali Syakieb, dan Reza Pahlevi.

Selain aktor-aktor tampan tersebut adapula aktris cantik Fanny Fabriana dan Zanetta Georgina.

Film ini bercerita tentang sekelompok remaja laki-laki yang hidup di pinggiran Jakarta, mereka tumbuh di lingkungan yang sama dan menjadi sahabat.

Mereka adalah Ale (Fathir), Jarot (Vino), Lukman (Dion), Sadat ( Ali), dan Jago (Dallas). Ale menjadi pemimpin mereka karena ia yang paling menonjol dan berjiwa pemimpin.

Konflik bermula ketika persahabatan mereka terpecah selepas bermain bola dengan anak kampung sebelah.

Saat Ale akan ditusuk lawan dengan pisau, Jarot memukul musuhnyya dengan batu bata di kepala hingga tewas. Jarot pun dipenjara dan perpecahan antara kelima sahabat itu bermula.

6. Merah Putih (2009)

Memiliki semboyan “untuk merdeka mereka bersatu”, film ini merupakan drama fiksi mengenai sejarah Indonesia.

Latar cerita berdasarkan pada kejadian Agresi Militer Belanda I ke jantung pemerintahan Republik Indonesia di Jawa Tengah pada tahun 1947.

Berkisah tentang lima kadet sebagai tentara gerilya mengalahkan tentara Belanda yang menyerbu markas mereka.

Terdiri dari Amir (Lukman Sardi), Tomas (Donny Alamsyah), Dayan (Teuku Rifnu), Soerono (Zumi Zola), dan Marius (Darius Sinathrya).

Kelima kadet tersebut mengikuti latihan militer yang bermarkas di sebuah Barak Bantir di Semarang, Jawa Tengah. Saat markas mereka diserang semua kadet terbunuh kecuali Amir, Tomas, Dayan, dan Marius.

Sarat akan pesan moral, perbedaan suku dan agama tidak menyulutkan rasa persatuan mereka untuk berjuang bersama mengalahkan pasukan Belanda.

Untuk memperkuat tim mereka bergabung bersama pasukan gerilya lainnya di pedalaman Jawa dimana mereka menemukan banyak strategi baru untuk mengalahkan penjajah.

7. 9 Naga (2006)

Menceritakan tentang kisah tobatnya tiga sahabat Marwan (Lukman Sardi), Lenny (Fauzi Baadilla), dan Donny (Donny Alamsyah) yang bekerja sebagai pembunuh bayaran.

Bagi mereka darah darah bisa menghasilkan uang, sesuai dengan semboyan film ini “manusia terbaik di Indonesia adalah seorang penjahat”.

Namun, semakin mendalami profesi tersebut, mereka menyadari bahwa pekerjaan tersebut tidak menjanjikan masa depan yang lebih baik.

Pada suatu ketika mereka dihadapkan pada peristiwa yang membuat mereka muak dengan pilihan hidup yang telah mereka tempuh selama ini.

Sejak saat itu semua berubah, ketiganya tersadar telah melakukan banyak kesalahan di masa lalu dan berusaha untuk menebus semua kesalahannya.

Akankah perjuangan tobat mereka semudah itu?

8. The Night Comes for Us (2018)

Film ini menjadi bukti jika film action Indonesia sudah berkembang di dunia internasional. The Night Comes for US secara resmi dirilis di Netflix sehingga dapat disaksikan oleh seluruh dunia.

Selain itu duet Iko Uwais dan Joe Taslim dalam film ini berhasil meningkatkan image film aksi Indonesia di mata dunia. Film perkelahian terbaik ini juga ikut dibintangi oleh Abima Asyasatya dan sederetan mega bintang lainnya.

Disutradarai oleh Timo Tjahjanto, film ini menyuguhkan aksi pertarungan yang menegangkan.

Bercerita tentang tokoh Ito (Joe Taslim) mantan anggota mafia yang mencoba berhenti dan keluar dari komplotan mafia yang digelutinya.

Hatinya terpanggil untuk berubah menjadi lebih baik demi menyelamatkan nyawa seorang gadis kecil. Karena tak tega membunuh gadis tersebut Ito mengkhianati anggota gengnya.

Hal ini membuat Ito menjadi buruan teman-teman mafianya. Ia harus membayar konsekuensinya yakni bertarung melawan teman-teman lamanya untuk bertahan hidup.

Selain itu orang-orang terdekat Ito yang mencoba ikut membantunya satu per satu ikut menjadi korban kebrutalan para mafia.

Lawan terberat Ito tak lain dan tak bukan adalah sahabat lamanya Aryan (Iko Uwais), yang kini ditugaskan untuk menghabisi nyawanya.

Akankah hidup Ito berakhir di tangan kawan lamanya ini?

9. Gundala: Negeri Ini Butuh Patriot (2019)

Film garapan sutradara kawakan Joko Anwar ini menjadi film Indonesia pertama yang menggunakan teknologi suara Dolby Atmos.

Kisah yang diadaptasi dari komik berjudul Gundala Putra Petir karya Hasmi ini bercerita tentang tokoh superhero Indonesia bernama Gundala.

Sancaka (Abimana Aryasatya) yatim piatu sejak kecil dan hidup di jalanan. Suatu hari ia mendapat kekuatan misterius karena disambar petir.

Bertahun-tahun Sancaka menyembunyikan kekuatan yang ada di dalam dirinya tersebut dan hidup layaknya orang normal.

Ia bertahan hidup di tengah kerasnya hidup jalanan Jakarta. Sancaka tumbuh menjadi manusia dingin yang hanya peduli pada dirinya dan acuh pada sekitar.

Tujuan hidup Sancaka hanyalah mendapatkan tempat aman bagi dirinya sendiri.

Suatu hari Sancaka terpaksa membangunkan kekuatan yang sudah ia kubur bertahun-tahun karena membantu seorang wanita dari gangguan preman.

Sejak saat ini Sancaka dihadapkan pada pilihan untuk keluar dari zona amannya atau membantu orang-orang tertindas di Jakarta sebagai Gundala.

10. The Raid 2: Berandal (2014)

Sekuel kedua The Raid ini memperoleh penghargaan tampil perdana di dunia pada Sundance Film Festival 2014.

Sebelum menonton The Raid 2 ada baiknya kamu menonton sekuel pertamanya agar lebih memahami karena cerita ini berkelanjutan.

Rama (Iko Uwais) terpaksa menyamar dan ikut bergabung dalam kelompok mafia karena keamanan keluarganya terancam.

Sebagai polisi elite tentu saja mudah bagi para penjahat kelas kakap menelusuri identitas dan latar belakang keluarga Rama.

Tak hanya keluarga Rama yang menjadi incaran, teman-teman sejawatnya pun menjadi sasaran para mafia.

Rama sengaja melakukan penyamaran untuk menghancurkan kelompok tersebut dari dalam hingga ke akar-akarnya.

Selain itu Rama juga memiliki misi penting yaitu membongkar kebobrokan dalam tubuh kepolisian tempat ia bekerja.

Akankah Rama mampu menuntaskan tugas dan menyelamatkan keluarganya.

Adegan perkelahian dalam sekuel kedua ini lebih intens dan terasa lebih menegangkan. Bagi para penggemar Iko Uwais saatnya merapat dan jangan lupa siapkan popcorn sebelum nobar.


Itulah beberapa film perkelahian terbaik karya anak bangsa dan tak kala epic nya dibandingkan film action Hollywood.

Jika kamu masih meragukan kualitas film Indonesia, sepertinya kamu perlu memeriksakan kesehatan mata.

Setelah menyimak beberapa film di atas, ternyata selain Iko Uwais dan Joe Taslim, ada nama Fauzi Baadilla, Ario Bayu, Lukman Sardi, Donny Alamsyah, Abimana Aryasatya dan sederetan aktor lainnya yang mumpuni di bidang aksi laga.

Oh iya Joe Taslim juga ikut serta melambungkan nama Indonesia di film Fast & Furius 6 (2013) dan Star Trek Beyond (2016).

Baca Juga: Film Perjalanan Waktu Terbaik

Leave a Comment